Lintaspulau.id, SOLO — Solo Menari 2026 kembali digelar di kawasan Balai Kota Solo pada Selasa–Rabu (28–29/4/2026). Berbeda dari tahun sebelumnya, perhelatan kali ini akan menghadirkan selebrasi sekitar 1.500 orang yang menari bersama di titik nol Kota Solo.
Direktur Solo Menari 2026, Heru Mataya, mengatakan perhelatan tahun ini mengusung tema Aku Kipas. Menurutnya, kipas memiliki sejarah panjang dan ikatan tradisi yang sangat kuat di berbagai daerah di Indonesia maupun Asia, termasuk di Kota Solo.
“Kipas menjadi properti penting untuk upacara, ritual, dan dunia tari di Indonesia. Hampir semua daerah punya kipas dengan bentuk dan filosofi berbeda, mulai dari Aceh, Sumba, Makassar, hingga Jawa. Keragaman ini sangat penting untuk kita hadirkan sebagai sumber inspirasi,” terangnya kepada Espos melalui sambungan telepon, Minggu (26/4/2026).
Heru menjelaskan kipas juga merupakan benda fungsional yang melintasi berbagai strata sosial. Kipas digunakan oleh semua kalangan, mulai dari buruh gendong yang memakai kertas sebagai kipas saat kelelahan hingga digunakan kalangan kerajaan dalam berbagai upacara sakral maupun pernikahan.
Selain itu, ia mengatakan perhelatan yang bertepatan dengan Hari Tari Dunia yang diperingati setiap 29 April ini melibatkan ribuan orang, baik dari masyarakat umum maupun seniman.
Keterlibatan tersebut bakal tersaji melalui pergelaran tari kolosal di titik nol Kota Solo, tepatnya di depan Balai Kota, pada Rabu (29/4/2026) sekitar pukul 15.00 WIB. Heru mengatakan pertunjukan ini melibatkan sekitar 1.550 hingga 1.700 penari dan pemusik dari berbagai latar belakang.
Heru mengatakan sejak dulu panggung Solo Menari memang dirancang sebagai ruang ekspresi yang inklusif. Penari yang terlibat sangat beragam, mulai dari penari profesional, pegawai pemerintah, hingga masyarakat umum dengan rentang usia 4 tahun hingga 82 tahun.
“Kami juga melibatkan sekitar 62 orang teman-teman disabilitas dalam payung Forkesi. Jadi mereka nanti akan ikut menari juga di tari kolosal. Ini benar-benar satu perayaan tari untuk semua kalangan,” jelas Heru.
Selain sajian utama tari kolosal, Heru menjelaskan Solo Menari 2026 juga akan diisi dengan serangkaian acara pendukung. Beberapa di antaranya meliputi pameran Kipas Melintas Waktu, lokakarya pembuatan dan pelukisan kipas kreasi, sarasehan, hingga pentas malam hari yang menampilkan 70 grup tari dari seluruh Indonesia.
Heru berharap melalui acara budaya tahunan ini, keberadaan sanggar-sanggar tari di Kota Solo dan daerah lain semakin kuat untuk melahirkan karya-karya koreografi baru yang mengeksplorasi properti kipas.
“Di samping itu, kami juga mendorong para UMKM dan perajin kipas untuk terus melestarikan pembuatan kipas tradisi maupun kreasi agar lebih giat lagi berkarya,” katanya.

Leave a Reply