Lintaspulau.id, PURWOKERTO-Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kelompok 90 Universitas Islam Negeri Prof. K.H. Saifuddin Zuhri (UIN Saizu) Purwokerto di Desa Pakikiran, Kecamatan Susukan, Kabupaten Banjarnegara, sukses memasang sejumlah plang penunjuk arah di titik-titik strategis desa pada Kamis (13/8/2026).
Sebuah papan kayu mungkin terlihat sederhana. Berdiri di persimpangan jalan, dengan tulisan nama tempat dan jarak yang tertera di atasnya. Namun bagi sebuah desa yang sedang menumbuhkan potensi wisata, papan penunjuk arah bisa menjadi lebih dari sekadar penanda jalan. Ia adalah pintu masuk.
Program tersebut dirancang untuk membantu warga maupun wisatawan mengenali akses menuju destinasi ekowisata dan fasilitas publik yang ada di Desa Pakikiran. Langkah sederhana itu lahir dari persoalan yang kerap luput dari perhatian: sebuah tempat yang indah belum tentu mudah ditemukan jika akses informasinya terbatas.
Desa Pakikiran memiliki sejumlah potensi wisata alam yang menawarkan pengalaman berbeda dari destinasi wisata yang sudah ramai dikenal. Namun, potensi tersebut membutuhkan dukungan infrastruktur sederhana agar lebih mudah dijangkau pengunjung. Mahasiswa KKN Kelompok 90 UIN Saizu kemudian melakukan pemetaan lokasi untuk menentukan titik pemasangan plang.
Persimpangan yang banyak dilalui warga maupun pengunjung dipilih agar papan penunjuk dapat berfungsi secara maksimal. Papan tersebut tidak hanya mencantumkan nama lokasi. Estimasi jarak juga ditampilkan untuk memberikan gambaran kepada pengendara maupun pejalan kaki mengenai tujuan yang hendak dicapai.
Beberapa destinasi yang ditunjukkan antara lain Watu Panggal dengan jarak sekitar 1.500 meter, Si Phetek sekitar 2.100 meter, serta Bukit Klapa Sewit sekitar 1.700 meter. Selain destinasi wisata alam, plang juga mengarahkan masyarakat menuju fasilitas publik, seperti Balai Desa Pakikiran dan Perpustakaan Desa, yang masing-masing berjarak sekitar 150 meter.
Dengan demikian, fungsi papan tidak hanya untuk wisatawan. Warga desa juga memperoleh informasi navigasi yang lebih jelas untuk menuju sejumlah fasilitas penting. Di balik papan yang kini berdiri di persimpangan jalan, ada proses pengerjaan yang cukup panjang.
Mahasiswa KKN tidak sekadar membeli papan yang sudah jadi. Mereka mengerjakannya secara bertahap, mulai dari memotong kayu, mengecat, memahat tulisan, hingga memasang dan mematok tiang di lokasi.
Koordinator Desa KKN Kelompok 90 UIN Saizu, Haikal Citra Anugerah, mengatakan setiap tahapan dikerjakan dengan memperhatikan sejumlah aspek, mulai dari keterbacaan tulisan hingga ketahanan material terhadap kondisi cuaca.
Estetika juga menjadi pertimbangan. Papan penunjuk diupayakan tetap memiliki karakter yang sesuai dengan lingkungan pedesaan sehingga tidak terasa asing dengan lanskap Desa Pakikiran.
“Kegiatan ini merupakan bentuk komitmen nyata kami dalam mendukung pengembangan potensi ekowisata di Desa Pakikiran. Dengan hadirnya penunjuk arah yang jelas, informatif, dan estetik, kami berharap para wisatawan tidak ragu lagi untuk berkunjung dan mengeksplorasi keindahan alam serta memanfaatkan fasilitas yang ada di desa ini,” ungkap Haikal.
Bagi mahasiswa, proses tersebut sekaligus menjadi pengalaman bahwa pembangunan desa tidak selalu harus dimulai dari proyek besar. Hal-hal sederhana yang menjawab kebutuhan nyata masyarakat pun dapat menjadi bagian penting dari pembangunan.
Sebuah destinasi wisata membutuhkan lebih dari sekadar pemandangan indah. Pengunjung perlu tahu bagaimana menuju lokasi, fasilitas apa yang tersedia, dan bagaimana mereka dapat berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya. Dalam konteks itulah keberadaan papan penunjuk jalan memiliki arti penting.
Ketika akses informasi semakin jelas, peluang wisatawan untuk menjangkau destinasi yang sebelumnya kurang dikenal juga terbuka lebih lebar. Wisatawan yang datang tidak hanya berpotensi menikmati alam Desa Pakikiran.
Pergerakan mereka juga dapat memberikan dampak terhadap aktivitas ekonomi masyarakat, mulai dari usaha makanan dan minuman, produk lokal, jasa, hingga berbagai aktivitas ekonomi lain yang tumbuh di sekitar destinasi. Karena itu, plang penunjuk arah yang dipasang mahasiswa KKN Kelompok 90 dapat dilihat sebagai bagian kecil dari ekosistem pengembangan ekowisata.
Papan tersebut mungkin hanya mengarahkan seseorang sejauh 1.500 meter menuju Watu Panggal. Namun di balik jarak itu terdapat peluang agar sebuah destinasi lebih dikenal, dikunjungi, dan pada akhirnya memberi manfaat bagi masyarakat.
Program pemasangan plang mendapat apresiasi dari Kepala Desa Pakikiran, Letda (Purn.) Sarkim, bersama masyarakat setempat. Bagi pemerintah desa, keberadaan papan penunjuk tersebut diharapkan tidak berhenti sebagai peninggalan fisik mahasiswa setelah masa KKN selesai.
Lebih dari itu, fasilitas tersebut diharapkan dapat terus digunakan dan dirawat masyarakat untuk mendukung mobilitas warga sekaligus memperkenalkan potensi wisata Desa Pakikiran kepada pengunjung dari luar daerah.
Harapan tersebut memperlihatkan satu hal penting dalam program KKN: keberhasilan kegiatan tidak hanya diukur dari apakah program selesai dilaksanakan, tetapi juga dari apakah manfaatnya dapat bertahan setelah mahasiswa kembali ke kampus.
Di Desa Pakikiran, mahasiswa KKN Kelompok 90 mencoba meninggalkan jejak melalui sesuatu yang sederhana papan kayu, tulisan arah, dan angka jarak. Tetapi dari sesuatu yang sederhana itu, ada harapan yang lebih besar: agar orang tidak lagi bertanya, “Di mana tempat wisatanya?”
Sebab jalan menuju destinasi sudah mulai ditunjukkan. Tinggal bagaimana masyarakat bersama pemerintah desa terus merawat jalan tersebut, mengembangkan destinasi yang dituju, dan memastikan setiap wisatawan yang datang menemukan alasan untuk kembali.
Pada akhirnya, ekowisata bukan hanya tentang membawa orang datang ke sebuah tempat. Ia juga tentang membuka jalan agar potensi lokal dapat dikenal, dikelola, dan memberi manfaat bagi masyarakat yang menjaganya. (NA)

Leave a Reply