1 Unggahan Viral Bisa Menghancurkan Mental, Waspadai Bahaya Public Humiliation

1 Unggahan Viral Bisa Menghancurkan Mental, Waspadai Bahaya Public Humiliation
Mempermalukan seseorang di depan publik atau public humiliation berdampak pada kesehatan mental. (Ilustrasi AI-ChatGPT)

Lintaspulau.id, SOLO — Satu unggahan viral bisa membuat seseorang menjadi bahan tertawaan, sasaran komentar, atau objek kemarahan publik. Bagi sebagian orang, hal itu mungkin dianggap sebagai kritik. Namun, bagi orang yang menjadi sasaran, pengalaman dipermalukan di depan publik dapat meninggalkan tekanan psikologis yang tidak sederhana.

Fenomena itu dikenal sebagai public humiliation, yaitu pengalaman dipermalukan di hadapan orang lain. Bentuknya bisa terjadi di sekolah, kampus, tempat kerja, ruang publik, hingga media sosial.

Di ruang digital, public humiliation dapat muncul dalam bentuk online shaming, komentar massal, unggahan viral, ejekan terbuka, atau penyebaran kesalahan seseorang agar dilihat banyak orang. Berbeda dari rasa malu biasa, public humiliation melibatkan perlakuan dari pihak lain yang membuat seseorang merasa direndahkan di depan umum.

Penelitian Li dan rekan-rekannya pada 2024 berjudul Prevalence of Experiencing Public Humiliation and Its Effects on Victims’ Mental Health: A Systematic Review and Meta-analysis yang diakses Espos di journals.sagepub.com, menunjukkan pengalaman dipermalukan di depan publik bukan hal yang jarang terjadi.

Meta-analisis terhadap 33 studi dengan total 40.468 partisipan itu menemukan prevalensi gabungan pengalaman public humiliation sebesar 34,9%. Studi tersebut juga menemukan orang yang pernah mengalami public humiliation memiliki peluang masalah kesehatan mental lebih tinggi dibandingkan mereka yang tidak mengalaminya.

Dampak yang dicatat mencakup tekanan emosional, kecemasan, depresi, stres, gejala stres pascatrauma (post-traumatic stress disorder/PTSD), burnout, hingga trauma. Dalam media sosial, dampak public humiliation bisa terasa lebih panjang.

Penyebabnya bukan hanya jumlah komentar, tetapi juga luasnya jangkauan dan jejak digital yang bersifat permanen. Karena konten yang mempermalukan seseorang dapat disimpan, dibagikan ulang, dibicarakan kembali, atau muncul lagi ketika nama orang tersebut dicari.

Batasan Kritik dan Mempermalukan

Bentuk lain penghinaan digital terlihat dalam online body shaming. Penelitian Novotný dan rekan-rekannya pada 2025 terhadap 9.441 remaja Ceko usia 11–17 tahun menemukan 25,84% remaja pernah mengalami online body shaming.

Studi yang diakses Espos di www.researchgate.net itu mencatat pengalaman tersebut berkaitan dengan gangguan dalam relasi sosial, tekanan emosional, gejala mirip kecemasan dan depresi, serta keluhan psikosomatis.

Temuan itu menunjukkan penghinaan di ruang digital tidak selalu berhenti sebagai komentar. Bagi sebagian korban, komentar dapat berubah menjadi rasa takut dinilai, kehilangan percaya diri, menarik diri dari lingkungan, atau terus mengingat peristiwa yang membuatnya merasa dipermalukan.

Karena itu, batas antara kritik dan mempermalukan perlu dipahami. Kritik berfokus pada perilaku, kesalahan, atau keputusan seseorang. Mempermalukan berfokus pada merendahkan pribadi, membuka identitas, menyebarkan aib, atau membuat seseorang menjadi tontonan publik.

Kritik tetap diperlukan dalam kehidupan sosial. Namun, kritik tidak harus dilakukan dengan menghancurkan martabat seseorang. Jika tujuan utamanya adalah memperbaiki perilaku, cara yang dipilih seharusnya tidak menambah luka psikologis.

Di era media sosial, setiap orang dapat menjadi penonton sekaligus penyebar. Satu komentar mungkin terasa kecil bagi yang menulisnya. Namun, ketika ribuan komentar serupa muncul, pengalaman itu bisa terasa seperti hukuman massal bagi orang yang menjadi sasaran.

Sebelum ikut mengomentari kesalahan seseorang, publik perlu berhenti sejenak untuk mamahami, apakah komentar itu benar-benar kritik, atau hanya menambah rasa malu. Apakah unggahan itu memberi informasi, atau sekadar memperpanjang hukuman sosial. 

Leave a Reply